VALUTA ASING

NILAI TUKAR

Kebutuhan akan nilai tukar timbul karena mata uang suatu negara biasanya tidak diterima sebagai media atau alat tukar di negara lain.

Hubungan perdagangan internasional menimbulkan adanya permintaan dan penawaran terhadap beberapa mata uang. Hal ini kemudian menyebabkan perkembangan pada bursa pertukaran mata uang asing, seperti New York, Tokyo, dan London, untuk mengatur berjuta-juta interaksi permintaan dan penawaran yang terjadi setiap hari, yang menuju pada penentu nilai tukar mata uang asing.

· SEJARAH PERTUKARAN MATA UANG

Sejarah pertukaran/perdagangan mata uang dapat dikatakan setua uang itu sendiri dan baru mendapat perhatian yang serius oleh banyak Negara pada dekade terakhir ini.

Kalau kita tinjau pada dekade standar emas (1880 – pecahnya PD I), pada masa tersebut uang dijamin oleh emas murni yang merupakan standar negara tersebut. Defisit neraca pembayaran akan ditutup dengan transfer emas, hingga mengakibatkan money supply menurun dan harga di luar negeri seakan naik, sehingga hal ini akan meningkatkan ekspor sampai defisit hilang, demikian sebaliknya. Dengan demikian, nilai mata uang relative stabil.

Sampai PD I, standarisasi emas memungkinkan tercapainya tingkat koreksi yang tinggi terhadap neraca pembayaran. Tetapi, tidak demikian pada saat peperangan, kemungkinan besar karena tumbuhnya serikat-serikat perdagangan dan perusahaan-perusahaan besar, adanya jaminan upah dan harga sehingga tidak mudah menurunkan kecenderungan tersebut, yang berdampak berkurangnya lapangan pekerjaan. Karena membengkaknya pengangguran pada awal 1930-an, standarisasi emas tidak dipakai lagi.

Pada tanggal 22 Juli 1944, atas prakarsa dari Amerika Serikat, diadakan suatu konferensi Moneter Internasional yang dikenal dengan : “ The Bretton Woods Conference “, yang dihadiri 44 negara. Usulan yang diajukan oleh delegasi Amerika Serikat (White Plan) menyusun rencana-rencana dasar yang disetujui.

Dalam konferensi tersebut, diciptakan suatu system pertukaran mata uang yang disebut dengan “ FIXED EXCHANGE RATE SYSTEM “, yang mempunyai beberapa persamaan dengan standar emas, dimana memuat ketentuan :

a. Tiap Negara menetapkan nilai tukarnya terhadap mata uang US$.

b. Amerika menetapkan nilai US$ terhadap emas (US$ 35/ounce).

c. Amerika akan menjual emas dengan harga tetap kepada pemegang resmi dari mata uang US$.

d. Perubahan nilai tukar mata uang Negara anggota IMF terhadap US$ tidak boleh melebihi 1%, bila terpaksa bisa sampai max 10%. Perubahan diatas 10% harus seijin IMF.

Dua tahun setelah konferensi tersebut, didirikan lembaga moneter internasional & Bank Dunia yang kita kenal saat ini dengan IMF (International Monetary Fund) dan Word Bank, untuk mengawasi system tersebut.

Pada periode tahun enam puluhan, defisit neraca pembayaran Amerika memaksa Negara tersebut melepaskan cadangan emasnya sebesar US$ 18 billion karena Prancis menukarkan US$nya dengan emas.

Pada periode tahun tujuh puluhan Amerika kembali harus melapaskan cadangan emasnya sebesar US$ 11 bilion. Buruknya perekonomian Amerika pada waktu itu menyebabkan masyarakat dunia kurang percaya terhadap US$. Dan di Negara yang memiliki mata uang yang kuat karena memiliki cadangan emas yang cukup seperti Swiss dan Jerman, mereka menukarkan US$nya dengan mata uang mereka yaitu CHF dan MDK.

Pada periode tahun tujuh puluhan, hutang jangka pendek yang hampir jatuh tempo di Amerika mencapai hampir dua kali cadangan emasnya. Maka pada tanggal 15 Agustus 1971, Presiden Nixon mengumumkan perubahan system nilai tukar untuk US$ dengan membiarkan nilai tukarnya mengambang (Floating Exchange Rate System), hal ini ditegaskan kembali dalam suatu konferensi di Washington pada tanggal 17-18 Desember 1971 (SMITHSONIAN CONFERENCE).

Setelah Presiden Nixon menetapkan nilai mengambang untuk mata uang US$, banyak Negara yang memutuskan untuk mengambangkan nilai tukarnya, seperti ; Jerman, Inggris,
Belanda, bahkan Jepang.

Pada bulan Mei 1972, US$ didevaluasi sebesar 7,9%, sehingga harga emas menjadi US$ 38/ounce dari US$ 35/ounce.

Pada bulan Februari 1973, US$ kembali didevaluasi sebesar 10%. Walaupun tidak banyak, hal tersebut membuat market menjual US$ kembali secara besar-besaran (Heavy Selling). Ini mengakibatkan nilai US$ terus meluncur turun dengan tajam.

Di tahun 1980-an, pergerakan modal lintas batas yang berakselerasi dengan kemajuan computer dan teknologi, memperluas jangkauan pasar meliputi zona waktu Asia, Eropa, dan Amerika. Transaksi valuta asing melonjak dari sekitar $70 milyar per hari paa 1980-an, sampai melebihi $1.5 triliun per hari pada dua decade selanjutnya, lebih dari tiga kali lipat jumlah agregat kombinasi US Equity dan Treasury, dan pada saat mencapai lebih dari $ 3 triliun per hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s